Welcome to my blog! Selamat Datang! Irashaimasu! Salamat Hasundau!

Selasa, 07 September 2010

Tai Chi

Apakah chi itu ? Almanak Cina memberikan keterangan yang tak begitu jelas tentang hal itu. Terjemahannya secara bebas sebagai berikut : "Chi adalah tenaga metafisik yang ada dalam alam bawah sadar setiap manusia". Tenaga itu dapat dikeluarkan dengan latihan napas yang teratur, latihan konsentrasi, dan latihan jasmani menurut metode Pa Tuan-Tsin. Latihan tersebut memakan waktu berpuluh-puluh tahun, tapi jika kekuatan itu telah muncul, ia akan tetap ada dan siap untuk dipergunakan. Kekuatan itu dapat dimasukkan ke tempat manapun yang paling diperlukan, misalnya ke otak, otot-otot tertentu atau ke organ tubuh yang sakit. Untuk berkelahi dengan tangan kosong, chi dipusatkan di telapak tangan dan pada sentuhan selama beberapa detik, kekuatan itu dilepaskan.
Secara umum, seseorang bisa menghimpun tenaga lebih banyak daripada kekuatan otot dengan bantuan kekuatan chi. Dasar dari tenaga bela diri tai chi adalah tenaga " dalam" chi yang kita sebut "napas yang besar". Apa yang dimaksud dengan "napas yang besar ?" Manusia biasanya menghirup zat asam tanpa sadar, padahal zat asam itu merupakan makanan utama tubuh manusia. Manusia bernapas secara otomatis dan mengisap udara seperlunya saja. Hanya pada keadaan yang istimewa, orang menghirup udara secara sadar.  Ia harus menarik napas dalam-dalam, agar paaru-parunya terisi zat asam 2x lebih banyak daripada biasanya, karena otak atau jaringan otot menuntut tenaga primer tambahan, sehingga keadaan darurat bisa diatasi.
Sekilas tai chi mirip dengan yoga dari India yang sudah dipropagandakan selama kurang lebih 2500 tahun. "Sumber kekuatan hidup yang paling besar dan paling menentukan terletak di udara yang bersih. Anda harus belajar menarik napas dalam-dalam dengan penuh kesadaran".
Ditinjau dari sudut ilmu kedokteran, baik di timur, timur jauh dan barat, terdapat kesepakatan mengenai eratnya hubungan tarikan napas yang dalam, vitalitas, serta kesehatan seseorang. Selain itu, hirupan napas yang dalam juga mempertinggi kekuatan mental. Alasanya mudah diterangkan : Karena otak mendapat lebih banyak mendapat zat asam !
Mungkin dapat dikatakan, bahwa hal terpenting bagi kita adalah mencapai keseimbangan optimal dalam pengaturan udara dalam tubuh, agar jutaan sel yang ada dalam tubuh dapat bernapas. Sel yang mendapat zat asam yang banyak akan menjadi sel yang aktif.
Para ahli tai chi kuno mengatakan bahwa waktu yang paling tepat untuk latihan tai chi adalah antara pukul 01.00 dan 03.00. Latihan pun harus dilakukan setiap hari. Jam-jam seperti yang dikemukakan di atas tidak menjadi masalah bagi biksu-biksu di Kuil Wu-Tang-San, yang merupakan orang pertama yang mengembangkan dan mempratekkan tai chi. Soalnya mereka dapat tidur pada saat matahari terbenam. Seperti para ahli yoga, para ahli tai chi juga melakukan meditasi yang khusuk dalam memperoleh kembali kekuatan alamiah mereka. Kekuatan itu didapat mereka bukan dengan tidur, sebab mereka hanya tidur kira-kira 3 jam atau paling lama 5 jam. 
Untuk kita yang tidak bisa tidur seperti para biksu, latihan sebaiknya dilaksanakan pada pagi hari. Keuntungan latihan pagi hari sangat besar, sebab zat asam yang merupakan makanan utama tubuh masih bersih dan segar. Pada pagi hari, kita juga tidak diganggu oleh suara bising, sehingga kita dapat berkonsentrasi dengan baik.
Hal yang penting dalam tai chi adalah sinkronisasi antara mengendurkan diri, bernapas secara sadar dan konsentrasi absolut pada saat yang sama itu juga. Dalam kenyataannya, chi merupakan seni beladiri Cina yang bertujuan untuk memperkuat jiwa, fisik dan mempertahankan kesehatan tubuh sampai usia lanjut. Selain itu dapat membangun sumber tenaga dalam yang dapat dipusatkan ke setiap bagian tubuh. Latihan yang dilakukan setiap hari akan mengisi sel tubuh, sama seperti accu yang di-charge terus menerus.
Marilah kita coba merangkum inti tai chi : Tai chi adalah seni yang membangkitkan kekuatan hidup, chi. Berkat konsentrasi, tenaga tersebut bisa dipusatkan ke bagian tubuh yang dikehendaki, apabila sinkronisasi 4 hal di bawah ini berhasil dijalankan. 4 hal tersebut adalah :
- Gerak cermat dan tepat dari sebuah otot / lebih
- Bernapas dengan tarikan yang dalam dan kesadaran penuh
- Memusatkan pandangan mata terhadap sebuah titik tertentu
- Pengamatan yang cermat terhadap naik turunnya ketegangan organ tubuh
Perkembangan kekuatan napas merupakan sebuah proses yang membutuhkan latihan teratur selama bertahun-tahun.

Kamis, 02 September 2010

Jenis Pernafasan


Untuk yang pernah belajar ilmu pernafasan, biasanya mengetahui jenis-jenis pernafasan yang terbagi tiga, yaitu :

  1. Pernafasan Lurus

Adalah pernafasan dengan metode tarik nafas dan buang nafas.
Biasanya pernafasan ini digunakan untuk pengobatan.


  1. Pernafasan Segitiga

Adalah pernafasan dengan metode tarik nafas, tahan nafas, buang nafas.

                           
Biasanya pernafasan ini digunakan untuk mengumpulkan / menghimpun dan mengendalikan energi.


  1. Pernafasan Segi Empat

Adalah pernafasan dengan metode tarik nafas, tahan nafas, buang nafas, tahan nafas.


Biasanya pernafasan ini digunakan untuk mengumpulkan / menghimpun, mengendalikan dan menyerap energi tingkat tinggi.

Rabu, 01 September 2010

Asal Muasal Suku Dayak


Tentang asal mula suku bangsa Dayak, banyak teori yang diterima adalah teori imigrasi bangsa China dari Provinsi Yunan di Cina Selatan. Penduduk Yunan ber-imigrasi besar-besaran (dalam kelompok kecil) di perkirakan pada tahun 3000-1500 SM (SM). Sebagian dari mereka mengembara ke Tumasik dan semenanjung Melayu, sebelum ke wilayah Indonesia. Sebagian lainnya melewati Hainan,Taiwan dan filipina.

Pada migrasi gelombang pertama yang oleh beberapa ahli disebut proto-melayu, datanglah kelompok negroid dan weddid. Sedangkan gelombang kedua, dalam jumlah yang lebih besar di sebut Deutero-Melayu. Para migran Deutero-Melayu kemudia menghuni wilayah pantai Kalimantan dan disebut suku Melayu. Proto-melayu dan Deutero-melayu sebenarnya berasal dari negeri yang sama.

Menurut H.TH. Fisher, migrasi dari asia terjadi pada fase pertama zaman Tretier. Saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan Muller-Schwaner.

Dari pegungungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977-1978)

Cerita selanjutnya suku Dayak adalah tentang bagaimana mereka menghadapi gelombang-gelombang kelompok lain yang datang ke Kalimantan. Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman.

Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608). Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum)

Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam. Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik (Departeman Pendidikan dan Kebudayaan,1977-1978)

Bahkan sumber lain menyebutkan sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci.